Music

Kamis, 02 Juli 2015

Kesehatan Mental

FENOMENA BULLYING DI SEKOLAH


                               

                                

                              

                               

Disusun Oleh :
RINDA ATHREEANI P (17513731)
Kelas : 2PA07
Kesehatan Mental


FAKULTAS PSIKOLOGI




BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang


Di dalam masyarakat Indonesia sendiri, masih terdapat anggapan bahwa sekolah adalah lembaga yang paling diperlukan oleh anak untuk dapat bertahan dalam masyarakat dan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan . The United Nations Charter Of Right For Children juga menyatakan bahwa setiap amk berhak untuk mendapat pendidikan dan setiap anak berhak untuk merasa aman (Sullivan 2001). Namun, Smith dan Morita (dalam Sullivan, 2001) mengatakan tingkat bullying disekolah sangat besar dan menegaskan bahwa seperti apapun bentuk sekolah, bullying itu terbukti terjadi, baik karena perbedaan budaya maupun lainnya. Bahkan, dalam sebuah penelitian terungkap bahwa 1 dari 3 siswa mengaku pernah mengalami bullying, baik dalam bentuk verbal maupun fisik.

Salah satu studi menyebutkan bahwa motivasi seorang pelajar mem-bully pelajar lainnya adalah pelampiasan emosi, agar terlihat hebat dan keren, kompensasi dari perasaan rendah diri dan kepercayaan diri yang timpang, serta demi popularitas dan status. Motivasi inilah yang ada dalam diri pelaku, sehingga diwujudkan dalam aksi bullying yang mengganggu kesejahteraan (well-being) siswa lain di sekolah. Dengan demikian, apabila perilaku bullying ini tetap dipertahan maka sama dengan menghambat perkembangan prestasi siswa itu sendiri karena school well-being para korban terganggu.

Berbicara mengenai school well-being, perlu diperhatikan bahwa aspek ini sangat penting dalam pengembangan prestasi belajar. School well-being menjadi paling penting untuk dibahas karena secara tidak langsung school well-being mempengaruhi prestasi siswa. Namun, salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pengembangan school well-being adalah fenomena bullying itu sendiri.


BAB 2
PEMBAHASAN

A.   Landasan Teori


Pendapat yang relatif sama dikemukakan oleh Sejiwa yang menyatakan bahwa bullying adalah situasi dimana seseorang yang kuat (bisa secara fisik atau mental) menekan, memojokkan, melecehkan, menyakiti seseorang yang lemah dengan sengaja dan berulang-ulang, untuk menunjukkan kekuasaannya. Dalam hal ini sang korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya sendiri karena lemah secara fisik atau mental.
1.      Pengertian Bullying: Bullying adalah suatu tindakan penindasan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih kepada seorang lainnya. Bullying sendiri ada bermacam-macam bentuk, seperti :
Bullying yang tidak langsung, biasanya orang yang melakukan tindakan bullying secara tidak langsung ini mereka mengolok-olok korbannya dengan perkataan yang menyakitkan, menghina, mencaci maki, mengucilkan korban saat di sekolah, atau bisa juga meneror korban melalui alat komunikasi, dan tak jarang ada yang menghinanya atau mencaci maki melalui media sosial.
Bullying yang secara langsung, yaitu tindakan penindasan yang dilakukan pelaku kepada korbannya secara langsung atau secara tatap muka. Misalnya dengan mengancam, memukul, menganiyaya, mengompas dan lain sebagainya.

             2.   Teori dari Para Ahli                                                                                                                                                                                        
1)      Teori Kepribadian Sigmund Freud
Pendapat Freud menyatakan bahwa pengalaman masa kecil sangat menentukan atau berpengaruh terhadap kepribadian masa dewasa. Freud sangat membenci dan bahkan dia memusuhi ayahnya. Dia begitu karena dia memiliki alasan, bahwa semasa dia kecil ayahnya selalu keras pada dia dan bersikap otoriter.
2)      Hall & Lindzey
Mengemukakan bahwa kepribadian adalah (1) keterampilan atau kecakapan sosial, dan (2) kesan yang paling menonjol yang ditunjukan seseorang kepada orang lain.

3)      Teori dari George Kelly
Kepribadian dapat diartikan sebagai cara yang unik yang dilakukan individu untuk menunjukkan pengalaman-pengalaman yang ada dalam hidupnya.


4)      Teori Empirisme John Locke
Menyatakan bahwa manusia memperoleh pengetahuannya dari pengalaman yang didapatnya. Ketika manusia lahir dia putih seperti kertas Tabularasa, dan kelak saat anak itu mulai tumbuh barulah dia akan melukiskan pengalaman yang didapatnya diatas kertas putih dalam dirinya tersebut.

5)      Dr. H. Syamsu Yusuf dalam bukunya
Dalam bukunya yang berjudul Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, menyatakan bahwa perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya terutama orangtuanya. Dr. H. Syamsu Yusuf juga mengatakan, masih dalam buku yang sama. Ada beberapa sikap dari orang tua yang berhubungan dengan perkembangan moral anak, yaitu :
a.       Konsisten dalam mendidik anak.
b.      Sikap orang tua terhadap anak.
c.       Penghayatan dan pengalaman yang dianut.
d.      Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma.


6)      Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974 : 478)
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974 : 478) memandang bahwa masa remaja ini adalah masa “storm and stress”. Ia menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya)- kebutuhan aktualisasi diri (Sunarto dan Agung Hartono, 2008 : 68).

Psikolog Homan Mengatakan bahwa : Jika tingkah laku yang sudah lewat dalam konteks stimulus dan situasi tertentu. Jika mendapat ganjaran maka akan dilakukan berulang-ulang.
Hipotesa penelitian : Ada hubungan antara bullying dengan keaktifan siswa disekolah. Hipotesa operational : Tindakan bullying dioperasionalisasikan sebagai penindasan . Kegiatan siswa dioperasionalisasikan sebagai penindasan.

Faktor Bullying disebabkan karena: Kurangnya Perhatian, Gender sebagai laki-laki dan kecendrungan untuk berkelahi, Adegan kekerasan dari beberapa media, Masalah keluarga, Faktor psikologis dari orang tua, Kecenderungan permusuhan, Riwayat korban kekerasan, dan Riwayat berkelahi. Cara mencegah perilaku Bullying adalah Bagi orang tua harus bisa memperhatikan pertumbuhan anaknya. Seperti: melihat lingkungan sekitar. Pergaulan dari anaknya dan lain-lain, kemudian orang tua juga harus dekat dengan anaknya, seperti member perhatian di lingkungan (melakukan tindakan bullying). Ketika anak masih kecil kita harus mengajarkan perilaku perilaku yang bermoral, seperti tidak boleh melakukan kekerasan, diajarkan sopan santun, dan diberitahu mana yang baik dan tidak baik. Dengan demikian pola berpikir anak akan sangat baik, dan pertumbuhannya pun akan baik.

Harga diri yang rendah dan pemahaman moral anak yang rendah memunculkan perilaku bullying. Anak yang melakukan bullying pada temannya karena anak ingin mendapatkan penghargaan dari temannya dan anak belum memahami suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan norma moral. Sisi lain hasil penelitian Hains menunjukan adanya ketidakkonsistenan skor pemahaman moral. Sisi lain hasil penelitian Hains menunjukkan adanya ketidakkonsistenan skor pemahaman moral terhadap perilaku menyimpang dan harga diri rendah tidak selalu memunculkan perilaku bullying. Hal ini berarti harga diri dan pemahaman moral tidak memberikan pengaruh pada perilaku bullying. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Sejiwa (2008: 14) yang menyatakan salah satu faktor penyebab seorang anak melakukan tindakan bullying adalah adanya harga diri yang rendah dan juga bertentangan dengan pendapat Hains (1984: 72) bahwa semakin seorang individu memiliki tingkat pemahaman moral yang tinggi akan mengurangi perilaku menyimpangnya.

Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pendapat berkaitan apakah harga diri dan pemahaman moral anak memberikan pengaruh pada perilaku bullying. Hal ini mendorong psikolog untuk meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh harga diri dan pemahaman moral anak terhadap perilaku bullying.


B.   Kronologi Kasus

Amanda Todd (15 tahun) juga merupakan contoh paling menyedihkan tentang remaja yang menjadi korban Bullying di sekolahnya. Dia merupakan siswi kelas 10 di SMA Port Coquitlam, British Columbia, Kanada. Selama bertahun tahun, Amanda di-Bully teman-teman sekolahnya, baik secara langsung maupun via internet. Amanda bahkan sempat pindah sekolah untuk menghindari penindasan, namun mereka tetap saja menghina dirinya di media internet.

Tahun lalu, Amanda curhat mengenai penderitaannya dengan mengunggah video ke youtube. Dia menulis kata per kata pada selembar kertas sehingga membentuk cerita. Tak lama kemudian, ia pun nekat mengakhiri hidupnya pada 10 oktober 2012. Sejak itu, video ini yang diunggahnya menyebar secara viral hingga akhir tahun.

Sama seperti beberapa negara bagian di Amerika Serikat, Pemerintah Kanada juga peduli terhadap kasus ini. Kematian Amanda tak sia-sia, sebab Pemerintah Kanada kemudian mengeluarkan UU soal cyber-bullying, agar tak muncul lagi peristiwa serupa. Pelaku, termasuk pelajar, tetap dikenai sanksi pidana yang berat. Carol Todd, ibu Amanda, bahkan membuat LSM bernama Amanda Todd Trush, yang siap membantu para korban bullying dan terus aktif melakukan kampanye anti-bullying.

C.   Analisis Kasus

Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan bullying di sekolah kita. Kemudian harus dibangun system atau mekanisme untuk mencegah dan menangani kasus bullying disekolah. Dalam tahap ini perlu dikembangkan aturan sekolah atau kode etik sekolah yang mendukung lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua anak dan mengurangi terjadinya bullying serta system penanganan korban bullying di setiap sekolah.

Kemudian harus dibangun sistem atau mekanisme untuk mencegah dan menangani kasus bullying di sekolah. Dalam tahap ini perlu dikembangkan aturan sekolah atau kode etik sekolah yang mendukung lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua anak dan mengurangi terjadinya bullying serta sistem penanganan korban bullying di setiap sekolah. Sistem ini akan mengakomodir bagaimana seorang anak yang menjadi korban bullying bisa melaporkan kejadian yang dialaminya tanpa rasa takut atau malu, lalu penanganan bagi korban bullying, dll.

Sekolah sebagai lembaga yang bertugas mencerdaskan bangsa sudah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman dan bermartabat bagi anak-anak kita sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan demikian maka kita telah mempersiapkan generasi mendatang yang unggul dan siap menjadi warga negara yang baik.

  
  D.   Gambar  

                  





BAB 3
PENUTUP
A.  Kesimpulan

Bullying dalam pendidikan sebenarnya sudah lama ada dalam bentuk kekerasan fisik, verbal dan psikologis, kekerasan yang menyakiti seseorang secara fisik seperti memukul, menampar, menjitak, meminta paksa barang dsb, sehingga menimbulkan penderitaan, kecacatan bahkan sampai kematian. Bullying dalam bentuk verbal seperti ejekan, penghinaan, atau menggosipkan dsb, bullying dalam bentuk psikologis seperti intimidasi, mengucilkan, mendiskriminasikan dsb. Dampak dari bullying sangat merugikan penderitaan misalnya anak mengalami trauma besar dan depresi yang akhirnya bisa menimbulkan gangguan mental di masa yang akan datang, dan anak tidak mau pergi ke sekolah, hilang konsentrasi sehingga prestasinya menurun drastis. Pelaku bullying ini bukan hanya siswa yang merasa lebih kuat atau lebih senior, tapi kenyataannya banyak dilakukan oleh guru-guru yang mereka tidak menyadari bahwa perlakuannya menimbulkan penderitaan bagi siswa. Untuk mengatasi masalah konseling sangat dibutuhkan. Konselor bekerja sama dengan orang tua, masyarakat, kepolisian dan penegak hokum untuk member pengertian kepada para pelajar dan mahasiswa bahwa bullying sangat merugikan.

B.   Saran
Hendaknya pihak sekolah proaktif membuat program pembelajaran, keterampilan sosial, manajemen konflik, dan pendidikan karakter. Dan guru hendaknya memantau sikap dan tingkah laku para sisiwa siswi di dalam ataupun luar kelas, guna mengetahui sifat dan karakteristik para siswa dan siswi. Sebaiknya peran orang tua juga ikut berperan dalam hal ini karena dengan cara bekerjasama dengan pihak sekolah umtuk tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal tanpa adanya tindak bullying di sekolah. Dalam hukum, pelaku dapat dikenakan sanksi yang tegas, sehingga anak anak bebas dalam tindakan bullying.

Daftar pustaka
Irwanto dkk. 1996. Psikologi Umum: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Papalia Diane. E. (2014). Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba Humanika           
https://lastriazzahra.wordpress.com/2012/11/23/makalah-perilaku-bullying-ditinjau-dari-pemahaman-moral-remaja/

(Sunarto dan Agung Hartono, 2008 : 68).

Jumat, 09 Januari 2015

Penelitian Psikologi dan Internet



Kelompok 1

Nama
NPM
Link
Peran dalam Kelompok
Ade Antika S
10513125
adeantikas.blogspot.com
Mencari materi Etika Penelitian Psikologi dengan Bantuan Internet
Chintia
11513892
chintiachntia.blogspot.com
Mencari materi Hasil Penelitian Tentang Psikologi dan Kaitannya dengan Internet
Cindy Puspasari
11513928
cindypuspa12.blogspot.com
Mengedit
Gesa Nedian
13513690
gesanedian13.blogspot.com
Mencari Kesimpulan
Rinda Athreeani P
17513731
rindaathreeani.blogspot.com
Mencari materi Teknik Penelitian Online
Vina Akbarina
19513150
vinaakbarina.wordpress.com
Mencari materi Etika Penelitian Psikologi dengan Bantuan Internet


A.     Etika Penelitian Psikologi dengan Bantuan Internet
Etika Penelitian internet adalah seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan penggunaan komputer. Etika  berasal dari 2 suku kata yaitu etika (bahasa Yunani: ethos) adalah adat istiadat atau kebiasaan yang baik dalam individu, kelompok maupun masyarakat dan komputer (bahasa Inggris: to compute) merupakan alat yang digunakan untuk menghitung dan mengolah data. Jumlah interaksi manusia dengan komputer yang terus meningkat dari waktu ke waktu membuat etika komputer menjadi suatu peraturan dasar yang harus dipahami oleh masyarakat luas.
maka itu Dengan kemajuanya teknologi di jaman sekarang seseorang bisa melakukan penelitian lebih mudah dengan adanya “Internet” . Etika penelitian dengan bantuan internet berkaitan dengan “benar” atau “salah” dalam melakukan penelitian. Seorang peneliti dalam hal ini perlu memperhitungkan apakah penelitiannya layak atau tak layak untuk dilakukan.
Dalam dunia elektronik pun khususnya media internet kita memiliki hak dan tanggung jawab atas apa yang telah kita publikasikan. Semua diatur dalam Pasal ITE. Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) no. 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (Undang-undang ITE ) yang menyatakan bahwa informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.
http://widyalitarindiani.blog.ugm.ac.id/files/2012/04/main-facebook.jpg
Dalam perkembangan zaman sekrang dunia maya sangat pamor untuk kalangan anak remaja, apalagi saling ada nya komentar dalam suatu status yang mereka buat, terkadang dalam dunia sosial tersebut menimbulkan suatu luapan emosi yang kita rasakan dan langsung kita update kan di jaringan sosial, di karena kan jaringan sosial merupakan suatu hal yang publik dan bisa di baca ke semua orang, mungkin dari pihak lain tersingung sehingga adanya suatu perseteruan antara pembuat status dan yang mengkomen status tersebut , hal terbesebut merupakan pelanggaran jaringan social
sehingga adanya dari pihak jaringan tersebut memberikan suatu fasilitas untuk memblokir orang yang mengkomen atau menghapus suatu status tersebut , sehingga tidak muncul kembali suatu percakapan yang tidak layak di lihat oleh penguna jaringan sosial lain nya.
hal tersebut merupakan suatu contoh pelangaran dalam jaringan sosial dan orang yang tadi melakukan suatu perseturuan harus ada nya Etika dalam mengunakan Internet .
Adanya peraturan yang harus dilakukan dalam etika penelitian dalam Internet
1. Menghormati martabat subjek penelitian  : Penelitian yang dilakukan harus manjunjung tinggi martabat seseorang (subjek penelitian). Dalam melakukan penelitian, hak asasi subjek harus dihargai.
2. Asas kemanfaatan : Penelitian yang dilakukan harus mepertimbangkan manfaat dan resiko yang mungkin terjadi. Penelitian boleh dilakukan apabila manfaat yang diperoleh lebih besar daripada resiko/dampak negatif yang akan terjadi. Selain itu, penelitian yang dilakukan tidak boleh membahayakan dan harus menjaga kesejahteraan manusia.
3. Berkeadilan : Dalam melakukan penelitian, setiap orang diberlakukan sama berdasar moral, martabat, dan hak asasi manusia. Hak dan kewajiban peneliti maupun subjek juga harus seimbang.
4. Informed consent : merupakan pernyataan kesediaan dari subjek penelitian untuk diambil datanya dan ikut serta dalam penelitian. Aspek utama informed consent yaitu informasi, komprehensif, dan volunterness. Dalam informed consent harus ada penjelasan tentang penelitian yang akan dilakukan. Baik mengenai tujuan penelitian, tatacara penelitian, manfaat yang akan diperoleh, resiko yang mungkin terjadi, dan adanya pilihan bahwa subjek penelitian dapat menarik diri kapan saja.
dan dalam Penelitian yang dilakukan harus menghargai kebebasan individual untuk bertindak sebagai responden atau subjek penelitian dalam melakukan survey di internet. Responden harus dijamin dan dilindungi karena pengambilan data dalam penelitian akan menyinggung ke arah hak asasi manusia. Meskipun suatu penelitian sangat bermanfaat namun apabila melanggar etika penelitian maka penelitian tersebut tidak boleh dilaksanakan.
Dalam melakukan sebuah penelitian percobaan, terdapat etika dan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh peneliti karena menyangkut kebebasan dan hak asasi subjek penelitian
ü  Norma Sopan-santun
Peneliti memperhatikan konvensi dan kebiasaan dalam tatanan di masyarakat.
Misal ketika kita mengambil data atau informasi dari web orang lain, kita harus minta ijin terlebih dahulu atau bisa juga dengan mencantumkan alamat halaman website.
ü  Norma Hukum
Pentingnya mencantumkan sumber yang jelas, sebab Bila terjadi pelanggaran maka Peneliti akan dikenakan sanksi.
ü  Norma Moral
Peneliti mempunyai itikad dan kesadaran yang baik dan jujur dalam penelitian. Data yang di ambil harus objektif tidak boleh di rekayasa
Beberapa alasan mengenai pentingnya etika dalam dunia internet adalah sebagai berikut:
a.       Pengguna internet merupakan orang-orang yang hidup dalam dunia yang tidak mengharuskan pernyataan identitas asli dalam berinteraksi.
b.       Bahwa pengguna internet berasal dari berbagai negara yang mungkin memiliki budaya, bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda.
c.       Harus diperhatikan bahwa pengguna internet akan selalu bertambah setiap saat dan memungkinkan masuknya “penghuni” baru didunia maya tersebut.

B.     Berbagai Hasil Penelitian dan Teknik Penelitian Online

ü  Komputer dan Internet Mengubah Ingatan Manusia
Komputer dan internet mengubah sifat ingatan manusia, demikian kesimpulan penelitian yang dimuat di majalah Science. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa jika seseorang diajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, mereka akan memikirkan computer.
Ketika mereka mengetahui bahwa berbagai fakta nantinya akan didapat lewat komputer maka ingatan mereka menjadi tidak begitu baik karena mereka mengetahui dapat mengandalkan sumber lain.
Para peneliti mengatakan internet bertindak sebagai “ingatan transaktif”.Penulis laporan Betsy Sparrow dari Universitas Columbia mengatakan ingatan transaktif “adalah ide adanya sumber ingatan luar-tempat penyimpanan di pihak lain”.”Ada ahli-ahli hal tertentu dan kita membiarkan mereka bertanggung jawab atas informasi tersebut,” katanya.
Penulis lain laporan Daniel Wegner, yang pertama kali mengusulkan konsep ingatan transaktif dalam bab sebuah buku berjudul Ketergantungan Kognitif pada Hubungan Dekat, menemukan pasangan yang sudah lama hidup bersama saling membantu saat mengingat sesuatu.
“Saya berpikir internet menjadi sebuah bentuk ingatan transaktif dan saya ingin mengujinya,” kata Dr Sparrow.
Di mana, bukan apa Bagian pertama pengkajian adalah menguji apakah peserta penelitian “langsung” memikirkan komputer dan internet begitu diajukan pertanyaan sulit. Tim menggunakan tes Stroop yang dimodifikasi.
Tes Stroop standar mengukur berapa lama waktu yang diperlukan partisipan untuk membaca sebuah kata warna sementara kata tersebut berbeda warna, misalnya kata “hijau” ditulis dengan warna biru. Waktu reaksi meningkat ketika, bukannya kata warna, para partisipan ditanyakan untuk membaca kata-kata tentang topik yang kemungkinan sudah ada dalam pikiran. Dengan cara ini tim peneliti menunjukkan bahwa, setelah diberikan topik dengan jawaban ya/tidak, waktu reaksi terhadap istilah yang terkait dengan internet sangat lebih lama. Ini adalah sebuah isyarat partisipan tidak mengetahui jawaban, dan mereka sudah mempertimbangkan untuk menjawab dengan menggunakan komputer.
Dalam percobaan lebih mendalam para peserta penelitian diberikan serangkaian fakta. Setengahnya diminta menyimpannya pada sejumlah folder di komputer, setengahnya diberitahu bahwa fakta-fakta tersebut akan dihapus. Ketika diminta untuk mengingat fakta tadi, kelompok yang mengetahui informasi tidak akan didapat lagi menunjukkan kinerja yang sangat lebih baik dibandingkan kelompok yang menyimpan fakta dalam berkas di komputer.
Tetapi kelompok yang mengharapkan informasi tersebut akan didapat nantinya, sangat bagus ingatannya dalam mengingat folder tempat penyimpanan informasi. ”Ini mengisyaratkan bahwa dalam kaitan dengan berbagai hal yang bisa kita dapatkan di internet, kita cenderung menempatkan ingatan online kita cenderung menyimpannya di luar,” kata Dr Sparrow.
Dia mengatakan kecenderungan partisipan untuk mengingat lokasi informasi, bukannya informasi itu sendiri, merupakan isyarat orang semakin tidak bisa mengingat sesuatu, mereka hanya mengatur penempatan informasi dalam jumlah besar agar nantinya mudah didapat.
“Saya tidak menganggap Google membuat kita bodoh, kita hanya mengubah cara mengingat. Jika kita bisa mendapatkannya di internet meskipun sedang berjalan-jalan, maka ketrampilan yang diperlukan, yang perlu diingat adalah ke mana harus mendapatkan informasi. Sama seperti dalam kaitannya dengan orang,ketrampilan yang diperlukan adalah mengingat siapa yang perlu ditemui (untuk mengetahui hal tertentu),” katanya.
Bagian pertama pengkajian adalah menguji apakah peserta penelitian “langsung” memikirkan komputer dan internet begitu diajukan pertanyaan sulit. Tim menggunakan tes Stroop yang dimodifikasi.
Tes Stroop standar mengukur berapa lama waktu yang diperlukan partisipan untuk membaca sebuah kata warna sementara kata tersebut berbeda warna, misalnya kata “hijau” ditulis dengan warna biru. Waktu reaksi meningkat ketika, bukannya kata warna, para partisipan ditanyakan untuk membaca kata-kata tentang topik yang kemungkinan sudah ada dalam pikiran. Dengan cara ini tim peneliti menunjukkan bahwa, setelah diberikan topik dengan jawaban ya/tidak, waktu reaksi terhadap istilah yang terkait dengan internet sangat lebih lama. Ini adalah sebuah isyarat partisipan tidak mengetahui jawaban, dan mereka sudah mempertimbangkan untuk menjawab dengan menggunakan komputer.
Dalam percobaan lebih mendalam para peserta penelitian diberikan serangkaian fakta. Setengahnya diminta menyimpannya pada sejumlah folder di komputer, setengahnya diberitahu bahwa fakta-fakta tersebut akan dihapus. Ketika diminta untuk mengingat fakta tadi, kelompok yang mengetahui informasi tidak akan didapat lagi menunjukkan kinerja yang sangat lebih baik dibandingkan kelompok yang menyimpan fakta dalam berkas di komputer.
Tetapi kelompok yang mengharapkan informasi tersebut akan didapat nantinya, sangat bagus ingatannya dalam mengingat folder tempat penyimpanan informasi. “Ini mengisyaratkan bahwa dalam kaitan dengan berbagai hal yang bisa kita dapatkan di internet, kita cenderung menempatkan ingatan online kita cenderung menyimpannya di luar,” kata Dr Sparrow.
Dia mengatakan kecenderungan partisipan untuk mengingat lokasi informasi, bukannya informasi itu sendiri, merupakan isyarat orang semakin tidak bisa mengingat sesuatu, mereka hanya mengatur penempatan informasi dalam jumlah besar agar nantinya mudah didapat.
“Saya tidak menganggap Google membuat kita bodoh, kita hanya mengubah cara mengingat. Jika kita bisa mendapatkannya di internet meskipun sedang berjalan-jalan, maka ketrampilan yang diperlukan, yang perlu diingat adalah ke mana harus mendapatkan informasi. Sama seperti dalam kaitannya dengan orang, ketrampilan yang diperlukan adalah mengingat siapa yang perlu ditemui (untuk mengetahui hal tertentu),” katanya.
ü  Efek Psikologis Facebook bagi Kesehatan Mental
Beberapa waktu lalu muncul laporan mengenai tanda-tanda orang kecanduan Facebook atau situs jejaring sosial lainnya, misalnya Anda mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman. Anda juga rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya.
Laporan terbaru dari The Daily Mail menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook atau MySpace juga bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan Anda saat ini.
Suatu hubungan mulai menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri sosial gathering, menghindari pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena “berpisah” dari komputernya.
Si pengguna akhirnya tertarik ke dalam dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang baru ditemui di Facebook atau Friendster akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face-to-face. Perilaku ini dapat meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan), demikian menurut Dr Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Institute of Biology.
Pertemuan secara face-to-face memiliki pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respons terhadap stres, beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan yang lain.
Menurutnya, media elektronik juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. “Salah satu perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari penduduk Inggris adalah pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari. Kurang dari dua dekade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat.”
Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, Anda dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer. Jika pada malam hari Anda masih sibuk mengomentari status teman Anda, Anda juga kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan. Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik yang lemah, bahkan obesitas.
Tidak heran jika Dr Sigman mengkhawatirkan arah dari masalah ini. “Situs jejaring sosial seharusnya dapat menjadi bumbu dari kehidupan sosial kita, namun yang kami temukan sangat berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah,” tegasnya.
Namun, bila aktivitas Facebook Anda masih sekadar sign in, mengonfirmasi friend requests, lalu sign out, tampaknya Anda tak perlu khawatir bakal terkena risiko kanker, stroke, bahkan menderita pikun.

C.      Teknik Penelitian Online
Internet merupakan salah satu agen yang makin mempermudah penggandaan suatu karya cipta terutama yang dipasang di internet. Berikut ini format pengutipan dan Teknik penelitian sumber-sumber online :
1. FTP (File Transfer Protocol)
Cara penulisan kutipan lewat File Transfer Protocol adalah sebagai berikut.
- Sertakan nama pengarang (jika ada) dengan nama belakang terlebih dahulu; judul lengkap; tanggal dokumen; protokol yang digunakan (dalam hal ini ftp) berikut alamatnya; tanggal akses.
Contoh: Johnson-Eilola, Johndan.,  “Little Machines: Rearticulating Hypertext User.” 3 Dec. 1994, ftp://ftp.daedalus.com/pub/CCCC95/johnson-eilola, (14 Aug 1996).
2. HTTP (HyperText Transfer Protocol)
WWW Sites (World Wide Web). Cara penulisan kutipan lewat File HyperText Transfer Protocol adalah sebagai berikut.
- Sertakan nama pengarang (jika ada) dengan nama belakang terlebih dahulu; judul lengkap dalam tanda petik; tanggal dokumen; protokol yang digunakan (dalam hal ini http) berikut alamat URL-nya; dan tanggal akses.
Contoh: Burka, Lauren P, “A Hypertext History of Multi-User Dimensions.”, MUD History. 1993, http://www.utopia.com/talent/ipb/muddex/essay, (2 Aug. 1996).
3. Telnet Sites Telnet Sites (Sites and Files available via the telnet protocol).
Cara penulisan kutipan lewat telnet sites adalah sebagai berikut.
- Sertakan nama pengarang, dengan nama belakang terlebih dahulu; judul karangan dalam tanda petik; nama situs telnet dalam huruf italic; dan tanggal publikasi.
4. Gopher
Untuk mengutip lewat situs gopher Anda dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
- Sertakan nama pengarang (jika ada) dengan nama belakang terlebih dahulu; judul lengkap dalam tanda petik; tanggal dokumen jika ada; protokol dokumen yang digunakan (dalam hal ini gopher) berikut alamatnya; tanggal akses; dand direktori gopher tersebut. Contoh: African National Congress; “Human Rights Update for Week No. 10 from 5/3/96 to 11/3/97.”; gopher://gopher.anc.org.za:70/00/hrc/1997/hrup97.10; (1 Jan. 1997).
5. Email, Listerv, dan Newsgroup
Untuk mengutip lewat mailing list Anda dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
- Sertakan nama pengarang (jika ada) atau alamat e-mail-nya; judul yang ada dalam Subject dalam tanda kutip; tanggal pesan jika berbeda dengan tanggal akses; nama mailing list (jika ada) dalam huruf italic; alamat milis atau protokol; tanggal akses dalam tanda kurung.
Contoh: Crump, Eric, “Re: Preserving Writing.”, Alliance for Computers and Writing, Listerv, acwl@unicorn.acs.ttu.edu, (31 Mar. 1995).
6. Publikasi Elektronik dan Database Online
Untuk mengutip lewat publikasi elektronik atau database online Anda dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
- Sertakan nama pengarang; judul artikel dalam tanda kutip; judul publikasi software dalam huruf italic; versi atau nomor edisi; nama database atau layanan online dalam huruf italic; tanggal akses.
Contoh: Christopher, Warren, “Working to Ensure a Secure and Comprehensive Peace in the Artikel Populer IlmuKomputer.Com Copyright © 2008 IlmuKomputer.Com
7. Software Program Microsoft dan Video Games Program, Software dan
Video Game
Untuk mengutip lewat software atau program Anda dapat menuliskan kutipan sebagai berikut.
- Nama pengarang atau produsennya (jika ada); judul program atau software dalam huruf italic; nomor versi (jika ada dan belum dicantumkan dalam judul software); informasi terbitan lainnya seperti tanggal (jika ada).
Contoh: ID Software, The Ultimate Doom, New York: GT Interactive Software,1995.

D.     Kesimpulan
Etika dalam penelitian merupakan sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai piranti sekaligus pedoman untuk menghindari kegagalan dalam penelitian. Etika yang dimaksud baik yang berkenaan dengan etika ilmiah maupun etika sosial. Mengedepankan etika sebagai sumber kepatutan dalam penelitian tidak lepas dari esensi kegiatan penelitian itu sendiri yaitu untuk menemukan kebenaran dan kemudian mengkontruks kebenaran itu menjadi sebuah teori.
Referensi :